Tadulakota dan Warna Baru Komunitas

Oleh: Natsir Said

HIDUP itu selalu dinamis, ia tidak pernah berdiam di satu kondisi. Kodrat alam yang sekaligus tidak lepas dari hukum-hukum penciptaan, mewajibkan perubahan selalu terjadi dalam perhitungan waktu lebih kecil dari sebatas milidetik.

Milidetik sama dengan seperseribu detik, sedangkan nanodetik merupakan sepermilyar detik. Tetapi, ada pengukuran lain dalam waktu yang membuat kedua ukuran itu terasa lambat, yaitu zeptodetik.

Tahun 2016 kemarin, para ilmuwan di Universitas Tekhnologi Munich, German telah berhasil mengukur waktu dalam satuan zeptodetik, atau dalam kata lain, sepertriliun dari sepermiliar detik. Zeptodetik merupakan satuan terkecil dalam waktu yang sama dengan 21 angka di belakang titik desimal.

Secepat itulah perubahan dalam hukum-hukum penciptaan, termasuk perubahan fisik, apapun itu hingga dalam jangkauan tak kasat mata hingga pada perubahan psikis sekaligus.

Kadang kita pun tak sadar, perubahan telah menarik paksa jasad dalam kondisi yang makin menua. Jauh meninggalkan ribuan angan dan kehendak yang belum tercapai. Pada kondisi munculnya kesadaran realitas fisik ini beberapa orang di antaranya berontak. Tak menerima kenyataan hingga membangun imajinasi yang seolah nyata bahwa ia belumlah menua. Maka tak jarang kita jumpai karakter psikologi yang tidak berbanding lurus dengan usia, mengabaikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mestinya telah hadir sebagai hasil dari polesan dinamika pada usia yang ia telah lewati di masa lampau.

“Tragedi dalam kehidupan adalah saat kita terlalu cepat menjadi tua, namun terlambat untuk jadi bijaksana” (Benjamin Franklin).

Bagi penulis, kehadiran TADULAKOTA sebagai tempat berkumpul seluruh elemen lalu membentuk komunitas di Kota Palu adalah bagian penting dalam perjalanan penciptaan. Banyak hal yang menjadi penyeimbang dalam menangkap makna.

Mengobati rindu setelah lama meninggalkan dunia organisasi legal-kadang juga illegal-karena harus memilih jalan hidup juga sekaligus merefresh mental.

Merifresh mental ini point penting. Sebab carut-marutnya mekanisme sosial sedikit banyak menguras pikiran. Jika sebelumnya kecenderungan kritik yang disuarakan dengan sangat serius, TADULAKOTA yang nota bene dipenuhi oleh para kritikus pun menampilkan kritik dalam canda. Membangun ‘konflik’ yang ‘seolah-olah’ (meminjam istilah Irwan Dumalang) dianggap serius padahal tidak, lalu larut dalam tawa yang tertahan.

Kami menikmatinya dalam canda. Menikmati setiap moment pertemuan yang tidak dibangun atas kepentingan personal. “Silahkan kalian datang dengan jutaan kepentingan sekalipun,” kata Datu Wajar Lamarauna pada satu kesempatan.

Mengenal beberapa orang baru yang berkesan adalah dinamika komunitas TADULAKOTA. Ia memiliki peran besar dalam menyegarkan mental. Terkadang, duduk diam lalu melarutkan diri dalam memaknai kata demi kata yang diucapkan orang lain dalam setiap pertemuan pun menjadi kenikmatan sendiri.

Sebab menurutku, menyelami karakter kejiwaan yang telah ditempa oleh pengalaman panjang hidup orang lain, kadang cukup dengan membiarkan diri hanyut dalam kata-katanya. Sekali lagi, kebijaksanaan selalu butuh penelusuran mendalam atas pengalaman hidup orang lain. Paling tidak, kita tidak menjadi semiris ucapan Benjamin Franklin. Terima kasih TADULAKOTA, kita teruskan bermimpi. [***]

(Penulis adalah anggota Komunitas Tadulakota dan Mantan Jurnalis)

(Visited 141 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*