Gubernur Sulteng Longki Djanggola (tengah) meninjau lokasi terdampak gempa.

Tetap Kuat Gubernurku

(Catatan lima : Getar Palu)
Mereka yang menghujatmu, adalah mereka yang tidak mengalami langsung apa yang terjadi hari-hari itu. Ketika kamu pemimpin yang gelisah harus menembus jalan, gunung dan jurang, di malam yang gelap dari tugas dinasmu, di Kabupaten Parigi untuk hadir bersama warga Kota Palu, Sigi dan Donggala yang sedang panik harus berbuat bagaimana dan melakukan apa.

Mereka yang banyak bicara juga tidak melihat langsung, Sabtu (29/9/2018) pagi yang murung, satu hari setelah Jumat yang bergetar. Bagaimana rumah kediamanmu di Siranindi yang berubah menjadi tempat pengungsian warga yang butuh perlindungan dan tempat koordinasi darurat untuk segala hal.

Hampir satu jam saya di rujab Siranindi pada pagi itu yang saya lihat sedang sibuk berkoordinasi hanya sosok Andi Sumbiring sahabat saya, sekaligus staf di Badan Bencana Provinsi Sulawesi Tengah dan orang-orang dari Badan Bencana Pusat yang sedang butuh informasi titik pengungsi.

Pada saat itu, hal yang bisa saya perbuat hanya membantu informasi orang Badan Bencana Nasional itu, soal beberapa titik yang saya lihat di pagi hari, tentang konsentrasi pengungsi dari Masjid Agung Darussalam, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri serta lapangan Kantor Walikota, serta beberapa lapangan terbuka yang ramai jadi titik kumpul warga.

Dari apa yang saya lihat dengan mata kepala sendiri di pagi yang penuh duka itu, ratusan warga di rumah jabatan Siranindi berharap cemas supaya kamu segera tiba dengan selamat. Lalu berdiri memimpin, mengambil keputusan terbaik di tengah orang-orang yang panik dan bingung.

Sementara ketika kamu tiba, aparaturmu memang sedang sibuk melakukan evakuasi keluarga masing-masing. Semuanya tambah parah, karena listrik padam, tempat pengisian bahan bakar tidak tersedia dan dijarah warga, telekomunikasi tidak berfungsi, bandara ditutup, membuat kamu dan orang-orang yang tersisa mesti kembali ke pola lama saling cari dititik di mana bisa bertemu, untuk berkoordinasi sambil berhemat bahan bakar kendaraan, agar bisa terus bisa berbuat untuk sesama.

Saya tahu kamu juga terus berteriak agar tenda darurat segera ada, rumah sakit berfungsi, listrik segera menyala, telekomunikasi segera diperbaiki dan arus logistik segera masuk, menolong mereka yang hidup.

Mereka yang membuat isu miring tentangmu, tidak tahu saja kamu juga punya keluarga dekat yang juga jadi korban. Puasanya kamu di hari-hari awal untuk berbicara, karena kamu sedang kesulitan mesti bicara dan memerintah siapa, sementara wajar saja di jam-jam awal pasca bencana, masing-masing orang sedang berusaha menolong keluarganya sendiri-sendiri.

Gubernurku, Longki Djanggola saya berada diantara deretan warga di tenda-tenda pengungsian itu, bersama anak-anak kota kita, memahami betul kekacauan pada saat itu.

Kami tahu diri, tidak bisa berbuat banyak pada saat itu maka yang kami lakukan hanya membagi air minum gratis ke warga yang kesusahan air minum karena mayoritas mesin air tanah mereka bergeser dan rusak, karena dipenuhi lumpur akibat tanah yang bergerak.

Kak, Longki Djanggola catatan kecil saya ini bukan untuk membelamu. Karena siapa sih saya ini ? Hanya warga biasa yang punya ikatan dengan Kota Palu, karena ari-ari saya ditanam di sini.

Namun setelah dua pekan, melihat berbagai isu miring yang berusaha memojokkan dirimu hati saya jadi tergerak, untuk memberikan perspektif yang berbeda dari apa yang saya lihat soal gugatan atas kamu yang dibangun di banyak tempat.

Saya juga cukup paham, soal marahmu yang jadi viral tentang mereka yang “meninggalkan Palu dan tidak usah kembali lagi” harusnya kalimatmu tidak lagi dibuat bersayap biar tidak jadi tafsir macam-macam.

Mestinya pada saat itu, lagsung saja, kamu bilang, marah pada mereka para pemilik sumberdaya seperti alat berat yang harusnya bisa membantu evakuasi, ASN yang tidak juga balik membantu warga setelah mengamankan keluarga atau mereka pemilik sumberdaya ekonomi yang punya cadangan logistik yang minimal bisa membantu beberapa hari bagi warga pada masa-masa kritis itu, namun memilih meninggalkan kamu dan warga Palu, Donggala serta Sigi.

Gubernurku, sekedar pendapat soal isu terbaru pengusiran relawan di kantor Bappeda sebenarnya tidak akan jadi heboh jika kepala Bappeda sang Profesor yang katanya maha terpelajar itu, bisa berkomunikasi dengan baik, bahwa perintah yang kamu berikan bahwa teman-teman relawan akan di relokasi ke kantor BPBD provinsi biar memudahkan arus kordinasi, cukup sampai di situ saja.

Tidak perlu juga keterangan tambahan sang profesor, soal barang yang hilang, karena tentu akan menyakiti mereka yang datang untuk menolong kita.

Terakhir, sebagai warga kota yang tetap mendukungmu, saya ingin bilang tetaplah kuat gubernurku karena ini tentang tugas sejarah yang harus dilalui, tetaplah berdiri dan berpijak pada kepentingan kemanusiaan, biarkan mereka berpikir soal politik, karena kita terlahir untuk menjalankan tugas kemanusiaan bukan sekedar berburu kekuasaan. Lakukan yang terbaik bagi banyak orang Gubernurku..

Salandoa kita pura..
Rahmad M Arsyad (Jumat 12 Oktober 2018)

#GubernurKuat
#PasigalaKuat

(Visited 330 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*