Jasad Jufri saat menjalani otopsi pertama di RSUD Anuntaloko Parigi. [Tsc]

Tewas Usai Ditangkap Polisi, Keluarga Korban Tidak Terima

Bagikan Tulisan ini :

Parigi, Jurnalsulawesi.com – Warga Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah bernama Jufri (50), diduga tewas akibat kelalaian oknum anggota Polisi. Kematian Jufri sesaat setelah dilakukan penangkapan dirumahnya, Selasa, (10/10/2017).

Tudingan keluarga, berdasarkan luka memar yang terdapat dibeberapa bagian tubuh korban yang dianggap tidak wajar.

Istri korban, Rosmin (35), yang ditemui sejumlah media dirumahnya, Rabu (11/10) menuturkan, Selasa malam rumahnya didatangi enam orang anggota Buru Sergap (Buser) dari Polres Parimo, sekira pukul 23:00 Wita. Kedatangan Buser tersebut jelasnya, bermaksud untuk menangkap suaminya yang saat itu berada dirumah.

Anehnya, penahanan tanpa surat penangkapan itu, para anggota Buser tidak memberitahukan kasus apa yang menjerat suami Rosmin.

“Suami saya (Jufri) sempat bertanya, kenapa saya mau ditangkap Pak? Polisi itu bilang, jawabnya nanti di kantor Polisi saja. Akhirnya suami saya ikut bersama mobil milik buser itu,” tutur Rosmin.

Hanya selang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 03.00 Wita, Rabu (11/10) dini hari, Kepala Desa Olaya datang memberi kabar, jika Jufri telah meninggal dunia. Dari keterangan yang disampaikan sang Kades, suami Rosmini meninggal dunia saat mencoba melarikan diri ketika polisi melakukan interogasi tepatnya di Jembatan Jalur Dua Desa Pombalowo, Kecamatan Parigi.

“Pak kepala desa bilang suami saya sudah meninggal. Saya tanya kenapa, katanya melompat dari jembatan Bambalemo saat melarikan diri. Saya bilang tidak mungkin, karena saya liat suamiku duduk di posisi tengah, diapit oleh dua orang polisi, mana mungkin bisa loncat,” kata Rosmini.

Dari keterangan polisi, korban melompat ke arah jembatan saat mobil berhenti karena sedang melakukan interograsi, imbuhnya.

“Tubuh suami saya penuh luka memar, yang paling parah dibagian belakang. Kalau sesuai keterangan polisi, saat jatuh posisi suami saya tengkurap. Harusnya kondisi jenazah tidak seperti ini. Kami minta keadilan, makanya kami minta dilakukan visum kembali untuk mengetahui apa yang sebenarnya dialami suami saya saat penangkapan itu,” tandasnya.

Namun permintaan visum ditolak pihak RSUD Anuntaloko Parigi, dengan alasan visum tidak dapat dilakukan dua kali setelah sebelumnya korban telah divisum berdasarkan permintaan polisi.

Sementara itu, Waka Polda Sulteng, Kombes Pol M. Aris Purnomo, kepada sejumlah media pada saat di rumah duka mengatakan, pihaknya tidak berkeberatan jika pihak keluarga akan mencari keadilan, pihaknya pun menyarankan kepada keluarga untuk melaporkan hal itu ke Komnas HAM.

Namun demikian, Aris mengatakan pihaknya tetap akan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu kebenarannya. Jika dikemudian hari, terbukti anggota polisi yang bersalah, maka pihaknya berjanji akan mengambil tindakan yang tegas.

“Kami akan proses kalau bersalah, bisa saja hingga pemecatan. Yang pasti kami akan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu kebenarannya,” tandasnya.

Ada peluang, pihak keluarga yang semula akan memakamkan Jufri pada Rabu sore akhirnya di batalkan, sebab, jenazah dibawa ke rumah sakit Bayangkhara Polda Sulteng, guna otopsi mencari tau penyebab kematiannya.[Tsc]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*