Tank Militer Rusia [Reuters]

Tingkatkan Militer di Perbatasan, Perang Terbuka Ancam Ukraina-Rusia

Jurnalsulawesi.com – Pasca-konfrontasi laut di Semenanjung Krimea, Rusia meningkatkan kehadiran pasukan militernya di wilayah perbatasan dengan Ukraina secara drastis. Presiden Ukraina, Petro Poroshenko menganggap peningkatan kehadiran pasukan militer bak ancaman perang yang dilontarkan Rusia.

“Jumlah tank Rusia di wilayah perbatasan telah meningkat tiga kali lipat,” ujar Poroshenko dalam sebuah wawancara, melansir AFP.

Namun, Poroshenko tidak membeberkan secara detail jumlah pasukan militer Rusia yang ada di wilayah perbatasan. Namun, informasi tersebut didapatkan berdasarkan laporan intelijen.

Poroshenko mengatakan bahwa kehadiran militer Rusia di wilayah perbatasan kali ini adalah yang terbesar sejak Moskow mencaplok Semenanjung Krimea pada tahun 2014 lalu.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina semakin meningkat, selepas insiden yang terjadi di Selat Kirch, Laut Hitam, Semenanjung Krimea pada Minggu pekan lalu. Karena Rusia dikabarkan mengerahkan pasukan ke wilayah perbatasan, Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyatakan kemungkinan mereka akan terlibat perang terbuka.

“Negara ini dalam ancaman akan terlibat perang terbuka dengan Rusia,” kata Petro, seperti dilansir CNN, Rabu (28/11/2018).

Poroshenko sudah meminta bantuan kepada sekutunya, Amerika Serikat. Dia bahkan mengontak Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang berharap dibantu dari sisi militer.

“Kami juga akan membatasi gerak-gerik orang Rusia di perbatasan untuk keluar masuk Ukraina,” ujar Poroshenko.

Badan Intelijen (FSB) dan penjaga pantai Rusia menahan 2 buah kapal Angkatan Laut dan sebuah kapal tunda Ukraina pada Minggu pekan lalu.

Menurut Badan Intelijen Rusia (FSB), insiden itu terjadi ketika dua kapal AL Ukraina berukuran kecil dilengkapi meriam yang mengawal sebuah kapal tunda melintas di Laut Hitam dekat Semenanjung Krimea. Mereka hendak menuju pelabuhan di Mariupol.

Rusia beralasan kapal AL Ukraina tetap melintas dan mengabaikan peringatan. Mereka lantas terlibat duel dengan masing-masing melancarkan manuver. Alhasil, penjaga pantai Rusia melepaskan tembakan ke arah kapal AL Ukraina dan melukai sejumlah pelaut.

Menurut versi Ukraina, Rusia justru menyerang dan menyita kapal setelah mereka menjauh dan hendak kembali pelabuhan di Odessa. Mereka mengaku Rusia bertindak agresif dengan menabrak dan menembaki kapal itu.

Poroshenko menyatakan jumlah pasukan Rusia di perbatasan meningkat tiga kali lipat, termasuk pengerahan kendaraan lapis baja. Namun, dia tidak membeberkan secara detail jumlahnya. Menurut dua informasi tersebut didapatkan berdasarkan laporan intelijen.

Sembilan anggota Angkatan Laut Ukraina pun divonis hukuman kurungan selama 2 bulan di Simferopol, Krimea.

Poroshenko mengatakan kehadiran militer Rusia di wilayah perbatasan kali ini adalah yang terbesar sejak negara itu mencaplok Semenanjung Krimea pada tahun 2014 lalu.

Ukraina saat ini memberlakukan status darurat militer selama 30 hari di kawasan yang berbatasan dengan Rusia. Jika sikap kedua negara terus seperti ini, kemungkinan besar perang tinggal menunggu waktu.

Putin Sangat Khawatir
Sementara, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyampaikan kekhawatirannya dengan situasi darurat militer di Ukraina yang diberlakukan setelah konfrontasi kedua negara di Laut Hitam.

Kremlin melaporkan bahwa Putin menyampaikan kekhawatiran tersebut saat berkomunikasi dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, Selasa (27/11/2018).

“[Putin] mengekspresikan kekhawatiran serius mengenai keputusan Kiev untuk menyiagakan angkatan bersenjata mereka dan memberlakukan darurat militer,” demikian pernyataan Kremlin sebagaimana dikutip AFP.

Dalam pembicaraan itu, Putin juga berharap “Berlin dapat memengaruhi otoritas Ukraina untuk menahan mereka dari tindakan sembrono lebih jauh.”

Ukraina memberlakukan darurat militer selama tiga puluh hari ini terhitung sejak Rabu (28/11/2018).

Pemberlakuan darurat militer itu disepakati pada Senin (26/11/2018), setelah terjadi konfrontasi langsung antara angkatan laut kedua negara di Laut Hitam.

Insiden bermula ketika dua kapal AL Ukraina berukuran kecil dilengkapi meriam yang mengawal sebuah kapal tunda melintas di Laut Hitam dekat Semenanjung Krimea.

Angkatan Laut Rusia lantas siaga dan memblokir perairan dengan menempatkan kapal tanker dan kapal penjaga pantai di perairan itu.

Rusia menyatakan kapal Ukraina berkeras melintasi perairan itu dan mengabaikan peringatan dari pihaknya. Penjaga pantai Rusia pun melepaskan tembakan ke arah kapal Ukraina dan melukai sejumlah pelaut.

Namun, menurut Ukraina, Rusia menembaki kapal setelah mereka memutuskan untuk putar balik.

Bentrokan angkatan laut Rusia dan Ukraina akhir pekan lalu ini membuat relasi kedua negara bertetangga itu kembali tegang selepas Moskow mencaplok Semenanjung Krimea dari Kiev empat tahun lalu.

Meski demikian, Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, memastikan bahwa negaranya tidak akan melakukan provokasi dengan darurat militer ini.

“Ukraina tidak merencanakan perang terhadap siapa pun,” ujar Poroshenko. [***]

Sumber; CNNIndonesia
Editor; Sutrisno

(Visited 10 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*