Kepala BI Perwakilan Sulteng Miyono (tengah) memberikan pemaparan dalam Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional, Kamis (31/5/2018). [Trisno]

Triwulan I 2018, Ekonomi Sulteng Tumbuh 6,62 Persen

Palu, Jurnalsulawesi.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 6,62 persen (yoy).

Kepala BI Perwakilan Sulteng Miyono menyebutkan, pertumbuhan ini mengalami peningkatan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya 3,97 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi Sulteng ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yakni sebesar 5,06 persen (yoy),” kata Miyono dalam Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional, di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (31/5/2018).

Namun kata Miyono, jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya sebesar 9,15 persen, pertumbuhan ini mengalami sedikit perlambatan.

“Perlambatan pertumbuhan sesuai dengan pola atau siklusnya selama ini, karena adanya penurunan konsumsi di awal tahun bila dibandingkan dengan akhir tahun,” jelasnya.

Sementara dalam konteks penurunan konsumsi pemerintah daerah di awal tahun kata Miyono, karena belum maksimalnya maksimalnya pendapatan, berdampak pada sektor swasta, sehingga konsumsi rumah tangga atau masyarakat di awal tahun terindikasi juga menurun.

“Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 123,17 pada Maret 2018 dari Desember 2017 sebesar 137,” terang Miyono.

Ditambahkannya, meski terjadi penurunan konsumsi Sulteng masih berhasil mencatatkan angka pertumbuhan investasi dan ekspor yang relatif tinggi, seiring membaiknya harga nikel, Stainless steel dan LNG di pasar internasional yang menjadi komoditas andalan Provinsi Sulteng.

Sementara dari sisi lapangan usaha, BI Sultemg mencatat sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi kontributor utama pertumbuhan Sulawesi Tengah.

Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian mencapai 15,43 persen yang tertinggi di antara sektor lainnya selama triwulan I 2018.

“Terjaganya permintaan dari negara mitra dagang atas LNG dan komoditas nikel beserta turunannya, berdampak positif pada kinerja sektor pertambangan dan penggalian sebagai pemasok bahan baku, sehingga memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sektor lain yang juga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar adalah sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan serta sektor infomasi dan komunikasi,” papar Miyono kepada puluhan wartawan.

Sementara industru pengolahan juga mencatatkan angka pertumbuhan yang cukup besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kapasitas pabrik dari berbagai industri pengolahan utama seperti smelter nikel di Morowali dan pengolahan LNG di Banggai telah berjalan hingga 100 persen.

“Justeru sektor pertanian yang selama ini sebagai penyangga utama atau memiliki share terbesar terhadap perekonomian Sulteng, pertumbuhannya mengalami perlambatan. Sedangkan sektor konstruksi pertumbuhannya relatif rendah,” tutup Miyono. [***]

Penulis; Sutrisno

(Visited 49 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*