Dampak tsunami yang menerjang Kota Palu dan Donggala pada Jumat (28/9/2018) lalu. [Ist]

Usai Survei, Ahli ITB Ungkap Kejadian 6 Menit Sebelum Tsunami Palu

Jurnalsulawesi.com – Ahli tsunami Dr. Eng. Hamzah Latief dari Kelompok Keahlian Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, melakukan pengamatan langsung ke lokasi tsunami yang terjadi di Palu dan sekitarnya, pada Rabu (10/10/2018).

Tsunami Palu terjadi 6-8 menit setelah gempa. Lewat survei, ahli ITB mengungkap peristiwa dalam perspektif geologi yang terjadi sebelum tsunami menerjang.

Hamzah menyebut, proses terjadinya tsunami diawali dengan gempa yang dipicu strike slip Patahan Palu Koro. Guncangan itu menyebabkan longsoran sedimen yang oleh aliran sungai dikumpulkan di muara. Ketika lempeng bergerak, sedimen tersebut meluncur jatuh dan menimbulkan tsunami.
BACA JUGATiga Faktor Penyebab Tsunami Mematikan di Palu

“Teluk Palu ini punya kemiringan dari dangkal sampai ke kedalaman 500 meter. Karena faktor tersebut (longsoran sedimen) telah menambah kenaikan tinggi muka air laut. Tapi penyebab longsoran sedimen belum jelas dari Pantai Talise atau dari mana,” ujarnya dikutip di laman ITB, Senin (15/10/2018).

Hal tersebut terungkap dalam pengamatan yang dilakukan Hamzah saat meninjau beberapa lokasi kejadian tsunami dari mulai Pantai Watusampu, Buluri dan Talise, Sulawesi Tengah, bersama tim ITB, Pusat Studi Gempa bumi Nasional (Pusgen), LIPI, dan Kementerian PUPR.

Hamzah juga berkesempatan langsung bertemu warga yang menjadi saksi dan berbincang langsung dengan mereka. Dikatakan, tsunami terjadi begitu cepat dan tiba-tiba setelah gempa terjadi.

“Tsunami ini menjalar ke segala arah, 6 menit kemudian tercatat di Pantoloan berdasarkan pasang surut dan juga 4 menit di daerah Watusampu,” ungkapnya.

Hamzah pun melakukan pengukuran ketinggian tsunami di beberapa lokasi, seperti di bawah Jembatan Kuning Palu atau Ponulele yang ambruk.

Ketinggian air bisa diketahui dari sisa-sisa sampah yang menyangkut di dinding tembok jembatan dengan ketinggian sampai lima meter. Di beberapa lokasi lain, ketinggian tsunami bervariasi ada yang tiga meter dan empat meter.
BACA JUGAKRI Spica-934 Temukan Longsoran Dasar Laut

“Lokasi kejadian tsunami yang parah berada di Talise, lebih dari 200 mayat ditemukan,” kata Hamzah. Baik di titik tertinggi maupun titik terendah, tsunami menerjang pantai, menghantam permukiman, hingga gedung-gedung dan fasilitas umum.

Hamzah melihat ada penurunan muka tanah terutama di daerah Jembatan Ponulele dan di masjid terapung di pinggir laut yang saat ini terendah air. “Kemungkinan di sana juga terjadi lateral spreading,” katanya.

Banyak studi penelitian tentang Sesar Palu Koro. Menurutnya, sesar tersebut merupakan patahan aktif di Indonesia dengan pergerakan sekitar 44 milimeter per tahun. Patahan Palu Koro memotong wilayah Sulawesi Tengah sampai Sulawesi Tenggara.

Kapal Sabuk Nusantara 39 sampai terdampar ke daratan di Desa Wani 2, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, akibat gempa dan tsunami pada Jumat (28/9/2018). [Ist]

ITB sendiri memulai fokus dalam penelitian tentang sesar Palu Koro pada 2012, hasilnya telah disampaikan kepada pemerintah daerah setempat, BNPB, dan staf ahli kepresidenan. Secara historis, kata Hamzah penduduk setempat sudah mengetahui tentang gempa, tsunami dan likuifaksi dengan bahasa-bahasa lokal di sana.
BACA JUGAMemahami Sesar Palu-Koro Pemicu Gempa dan Tsunami

“Setelah survei ini, perlu dilakukan kajian pemetaan bahaya tsunami dan dipertimbangkan dalam penataan ruang. Dibangun suatu bangunan yang akrab terhadap bahaya tsunami,” jelasnya. [***]

 

Sumber; Kompas

(Visited 299 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*