Perwakilan aksi unjuk rasa diterima Ketua DPRD Tolitoli bersama fraksi gabungan di ruang sidang utama, Rabu (6/12/2017). [Paluekspres]

Warga Salumpaga Tolak Penggantian Nama Lapangan Haji Hayun

Bagikan Tulisan ini :

Tolitoli, Jurnalsulawesi.com – Ratusan warga dari Desa Salumpaga, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, berunjuk rasa di Gedung DPRD Kabupaten Tolitoli, Rabu (6/12/2017). Aksi unjuk rasa ini dilakukan untuk menolak rencana pemerintah setempat mengganti nama Lapangan Haji Hayun menjadi lapangan Gaukan Muh Bantilan.

Unjuk rasa yang dimlai Pukul 11.00 Wita itu berlangsung aman di bawah pengawalan aparat Polres Tolitoli.

Aksi Damai yang dilaksanakan Aliansi Masyarakat Salumpaga ini dipimpin korlap Fikriadi dan Hamzan, Ketua Badan Permusyawaratan Desa Rajuddin Ramli (cucu ke-3 Pejuang Tolitoli H. Hayun) serta didampingi para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Salumpaga.

Kepada Ketua DPRD Tolitoli Andi Ahmad Syarif dan sejumlah anggota lainnya, warga mengajukan tiga tuntutan yakni pertama; tidak menginginkan penamaan baru pada Lapangan Haji Hayun. Kedua; hentikan penganaktirian masyarakat yang tetap menginginkan nama Lapangan haji Hayun dan ketiga; mendesak pemerintah kabupaten untuk segera memasang papan nama Lapangan Haji Hayun.

Beberapa perwakilan masa akhirnya diterima Ketua DPRD Tolitoli Andi Ahmad Syarif, bersama gabungan komisi di ruang sidang utama.

Andi Ahmad Syarif menjelaskan, secara kelembagaan pihaknya dengan tegas menolak pergantian nama tersebut. Karena DPRD juga merupakan lembaga yang memiliki kewenangan mengawasi pelakasanaan roda Pemerintahan yang ada di daerah.

DPRD Tolitoli berjanji akan meneruskan aspirasi mereka dan meminta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat mengganggu harmonisnya kehidupan masyarakat Tolitoli.

Dikutip dari Paluekspres, pertemuan di ruang sidang DPRD sempat berlangsung alot, arena massa meminta pimpinan rapat untuk menghadirkan Bupati Tolitoli, Saleh Bantilan. Namun yang dihadirkan Asisten III Sekretariat Daerah, Abdillah Gafar.

Asisten III mengatakan pihaknya akan menampung aspirasi masyarakat yang menolak pergantian nama lapangan Hi. Hayun untuk disampaikan kepada Bupati.

Sedangkan pihak Pemkab Tolitoli mengaku sampai saat ini belum ada keputusan tertulis mengenai rencana perubahan nama lapangan H. Hayun tersebut.

Keterangan yang dikumpulkan dari Tolitoli menyebutkan bahwa masyarakat Desa Salumpaga terdiri atas beraneka ragam suku seperti Kaili, Bugis, Tolitoli dan Bajo, tetapi mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Bajo.

Sebagian besar masyarakat Desa Salumpaga merupakan keturunan dari Imam Hi. Hayun yang merupakan icon dari Lapangan Hi.Hayun di ibu kota kabupaten penghasil cengkeh terbesar di Sulawesi Tengah itu. [***]

Source; Antara/Paluekspres
Red; Sutrisno

(Visited 26 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*