Jembatan Pamona yang dibangun sejak tahun 1930-an ini memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi bagi orang Poso. Warga menolak penggantian jembatan ikonik di Kabupaten Poso dengan jembatan berbahan beton. [Ist]

Warga Tolak Perubahan Jembatan Pamona

Poso, Jurnalsulawesi.com – Rencana pemerintah mengganti jembatan Pamona yang terbuat dari kayu dengan model baru dan berbahan beton mendapat tentangan dari masyarakat. Pasalnya, jembatan yang dibuat sejak tahun 1930-an ini memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi bagi orang Poso.

“Kami akan melawan upaya menghilangkan sejarah Mesale (gotong royong-red) orang Poso yang diperlihatkan ketika membangun jembatan Pamona itu,” kata Jimmi Methusala, anggota individu (non-struktur) Walhi, yang juga salah pegiat sosial di Kabupaten Poso, dalam rilisnya, Sabtu (24/2/2018).

Ketika pembangunan jembatan Pamona dilakukan kata Jimmi, setiap orang yang tinggal di pinggir danau punya kewajiban ikut membangunnya, baik dalam bentuk tenaga maupun material kayu.

Sementara kepala Balitbangda kabupaten Poso, Suratno Teguh, yang dihubungi membenarkan rencana penggantian jembatan ikonik Kabupaten Poso tersebut. Suratno mengatakan, mengganti jembatan Pamona yang terbuat dari kayu menjadi jembatan dengan konstruksi beton lebih pada alasan teknis, yakni saat ini sudah sulit menemukan kayu yang sama untuk mengganti konstruksi jembatan itu.

“Kita akan menggantinya dengan bahan beton. Modelnya sebagian kita rubah sehingga dijembatan itu nanti lebih luas dan orang bisa berjualan,” kata Suratno.

Proyek itu lanjut dia merupakan bagian dari program CSR PT Poso Energy, perusahaan pembangkit listrik milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tahun 2017 lalu, PT Poso Energy telah menandatangani kesepakatan dengan Pemda Poso untuk membangun lokasi wisata taman air yang meliputi kawasan sekitar mulut danau Poso melewati beberapa kelurahan hingga ke kelurahan Tendeadongi atau sepanjang hampir 2 kilometer.

Ditambahkan Suratno, bulan Maret tahun ini sudah akan dilaksanakan studi Amdal dan satu bulan kemudian, yakni bulan Mei 2018 pekerjaan konstruksi tahap awal sudah akan dimulai. Pengerjaan proyek ini akan memakan waktu 3 tahun lamanya.

Isi penolakan masyarakat atas rencana proyek ini seperti yang terlihat di media sosial lebih banyak pada kekhawatiran hilangnya sejarah dan monumen budaya yang terwujud dalam proses pembangunan jembatan Pamona dimasa lalu.

Saat ditanya berapa anggaran CSR yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan, Suratno mengaku tidak mengetahui. Namun dia memperkirakan jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

Rencana pembongkaran atau rehabilitasi jembatan Pamona merupakan bagian dari rencana kesepakatan PT Poso Energy-Pemda Poso untuk meningkatkan objek wisata air di Tentena. Selain rencana merubah jembatan, kesepakatan ini juga akan membuat pagar Sogili-alat tangkap sidat- juga akan dirubah untuk tidak menyebutnya dibongkar.

Beberapa orang pemilik pagar Sogili mengungkapkan, mereka sudah mendengar rencana itu. Beberapa di antaranya menolak. Namun mereka seperti tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Beberapa kelompok pemilik pagar Sogili lainnya melakukan penolakan dengan menggalang solidaritas ke beberapa desa dan kelurahan yang memiliki pagar Sogili. [***]

Kiriman; Sofyan Siruyu
Editor; Sutrisno

(Visited 547 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*