Gubernur Sulteng Longki Djanggola meninjau dampak gempa dan tsunami di Desa Boya Kabupaten Donggala. [Ist]

Wasekjen Ansor Sebut Gubernur Sulteng ‘Ksatria’

Palu, Jurnalsulawesi.com – Kepempinan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola patut diapresiasi, lantaran dengan tindakan ksatrianya menereobos jalan Palu-Toboli ruas Kebun Kopi, yang kala itu sedang terjadi longsor di beberapa titik. Tindakan itu dilakukan untuk melihat secara langsung peristiwa bencana alam gempa, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi pada 28 September lalu sekira pukul 18.02 WITA. Bencana yang mengemparkan Indonesia bahkan menjadi perhatian dunia.

Fenomena penerobosan yang dilakukan Gubernur Longki itu jarang dilakukan oleh siapa pun pemimpin yang. Demikian dikemukakan Wakil Sekertatis Jenderal GP Ansor, Nizar Rahmatu, Rabu (17/10/2018).

“Tidak bisa tidak, untuk kali ini saya angkat topi dan mengakui. Beliau taruhan nyawa,” ungkapnya.

Secara jujur kata Nizar, harus diakui bahwa keberanian seorang Longki Djanggola sebagai gubernur masuk ke Kota Palu dalam situasi bencana kala itu, di mana belum ada jaminan dari pihak BMKG apakah Kota Palu sudah kondusif atau tidak dari bencana. Belum lagi berbagai informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, bahwa akan gempa susulan yang lebih dahsyat lagi.

“Tidak ada siapa pun pemimpin seperti itu. Secara jujur kita harus mengapresiasi tindakan itu di malam buta beliau naik motor trail, lalu kemudian naik truck agar dapat secepatnya tiba di Palu. Ini berdasarkan cerita salah seorang terdekat beliau,” katanya.

Parahnya lagi, ia mendengar info bahwa saat Gubernur Longki melanggelar pertemuan membahas situasi darurat, hanya beberapa orang Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hadir.

“Saya dengar rapat dengan Pangdam, hanya tiga orang kepala dinas yang hadir,” katanya.

Menurut Nizar, secara psikologis
dalam situasi sesulit ini ia melihat walaupun tampak down, Gubernur Longki menunjukan sikap seorang pemimpin yang tetap mengayomi warganya yang ditimpa musibah. Ia mengatakan publik tahu bahwa seorang Nizar Rahmatu dikenal sebagai ‘oposisi’ di Pilkada Sulteng 2015 lalu, bahkan publik menilai bahwa sampai saat ini Nizar sebagai ‘oposisi’.

“Tapi dalam situasi ini kita harus mengakui tanggung jawab seorang Longki Djanggola. Di tengah – tengah gempa warga keluar Palu, beliau malah masuk Palu melihat kondisi Kota Palu. Inilah pemimpin yang patut diapresiasi,” jelas Nizar.

Seperti diketahui bahwa ketika bencana terjadi, Gubernur Longki sedang melakukan survei jalur Tour de Central Celebest (TdCC) dari Banggai dan rencananya istirahat di Ampana, tetapi ketika bencana terjadi pada Jumat 28 September ia langsung menuju ke Palu dan tiba pada Sabtu dini hari, dan langsung meninjau lokasi-lokasi bencana.

Terlepas dari plus minus Longki sebagai Gubernur dalam situasi bencana seperti ini tambah Nizar, semua element masyarakat dan para stakeholder saling mendukung guna memulihkan kembali daerah ini.

Ia menyayangkan banyaknya komentar-komentar miring yang bersliweran di publik dan sosial media mengenai langkah Pemprov merespon bencana ini.

Nizar mengaku prihatin padahal penanggulangan bencana dan pasca bencana ada prosedur UU dan mekanisme yang mengatur. Ia menyerukan kepada publik bahwa Palu harus bangkit, Sulteng harus bangkit untuk tetap berdaya saing di level nasional. [***]

Penulis; Bob Shinoda

(Visited 53 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*