Inilah kebun warga yang dipatok masuk dalam tapal batas kawasan hutan oleh TNLL. [Foto: YTM]

YTM Protes Tapal Batas Hutan TNLL di Kebun Warga

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Yayasan Tanah Merdeka (YTM) memprotes aksi pemancangan tapal batas kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang dilakukan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XVI Palu (BPKH) di dalam kebun-kebun petani Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Manager Kampanye dan Jaringan YTM, Adriansa Manu, Selasa (02/05/2017) menegaskan, pemancangan tapal batas TNLL itu sengaja dilakukan untuk membatasi akses petani berkebun dan memanfaatkan hasil hutan atas nama konservasi.

“Masalah ini bukan hanya terjadi di desa Katu. Tetapi juga di desa-desa lain yang bersentuhan dengan kawasan hutan,” jelasnya.

Pal batas TNLL di kebun kakao milik warga di Desa Katu. [YTM]

Kata Adriansa, melalui Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, kawasan hutan di petakan tanpa melibatkan para petani. “Tiba-tiba wilayah kelola petani dipagar tanpa ada partisipasi mereka. Ini masalah yang terus berulang terjadi di Indonesia,” imbuhnya.

Adriansa menegaskan, pemasangan tapal batas TNLL patut ditolak petani yang dirampas tanahnya untuk kepentingan konservasi. Sebab, proyek konservasi jelas melanggar Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 ayat 2.

Ia juga menjelaskan proyek TNLL ini, tidak terlepas dari kepentingan negara maju untuk menghindar dari tanggung jawab ekologi dunia. Dimana produksi yang sarat beban lingkungan berada di sana.

“Negara-negara maju terus menggenjot produksi berbahan bakar fosil dengan masif. Mereka juga mengubah bentang alam menjadi rusak. Anehnya, negara-negara berkembang seperti Indonesia diminta untuk menjaga hutannya. Ini adalah imperialisme ekologi,” jelasnya.

Adriansa juga menyesalkan sikap pemerintah yang cenderung mau didikte oleh negara-negara maju demi kepentingan ekonomi politik kapitalis.

“Pemerintah kita mau mengorbankan warganya yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Para petani, acap kali dituduh perusak hutan dan dipaksa keluar dari dalam kawasan hutan demi tujuan perlindungan hutan,” tandasnya. [***]

 

Rep; Jufri Malewa/*
Red; Agus Manggona

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*